Utopia

our land full of peace, silence, lightless

Journal of The Journey

Teruntuk: Pikiranmu

kita tak pernah berpikir seburuk ini
apakah senja mengaburkan mimpi-mimpimu
ataukah fajar membutakan alih-alih asamu
putus harga diri, kemarau tak membual memang

kita pernah bermimpi untuk menghias malam yang gelap
yang menjadikannya penuh bintang
kita pernah berharap untuk menyimpan pagi
dan menyajikannya setelah sarapan mimpi

haruskah kuobrak-abrik pikiranmu?
haruskah kusiasati rintang jalanmu?

kini, mulut enggan bicara terlalu banyak
detak detik pacu tarianmu yang hampa
jurang nada yang kau pilukan itu
aku antarkan dalam kata-kata, sebuah puisi

dan jadilah bumiku lagi, hidup saling menghidupi
dan jadikan aku langitmu lagi, biar saling meneduhkan
biar wujudmu tetap indah, tanpa harus ditutupi

bertahanlah
tanpa harus menyakiti diri sendiri
untuk hidup agar teduh hati.
teruntuk: pikiranmu.

Ode Ego Demonique

Hari ini aku lupa menjadi manusia, seperti nokturnal yang enggan disetubuhi surya. Di kala itu pula, aku lihat kau berlari, sepi. menghilang di tengah pagi, jika tak mau ku sebut siang. Aku sungguh lupa aksi manismu, yang merayu dan merajut kesibukanku. Yang diam dan menyeringai waktu para perantau tertawa terbahak. Aku lupa jadi diriku.

Pagi berubah, dia dipukul mati oleh senja. Dan malam, tak lagi meragukan senyumannya, sinis. Kini aku tak tahu jarak, aku tak tahu waktu, aku tak tahu segalanya, semua berubah. Aku lupa aku bekerja demi siapa, aku lupakan keluargaku, aku lupakan semua yang terus menerus mengasihiku. Aku terpaku pada matahari yang tak kunjung usai, persetan.

Dan semakin tua, aku semakin haus kasihan. ah, aku ingin bangkit sendiri rasanya. Namun, renta adalah diriku. Malas adalah hidupku. Aku tak peduli lagi dengan lini waktu yang menjadikan ada. Apa yang terjadi? kau kemanakan egomu yang buas?

Apakah kita semua benar-benar sengsara? apakah kita semua masih percaya? pada kebenaran-kebenaran yang usang? yang tradisinya telah punah dan luruh? bangsat.

Aku sadar aku diubah, aku sadar. Saat bangkit telah usai. Dan aku, terlambat datang padanya. aku terlambat dikasihani oleh waktu. Nak, kau kehilangan arah, kau kehilangan wibawa, kau kehilangan harga diri. Jangan lagi kau buang egomu percuma. ludahi semua yang buas, karena hanya kau yang buas. Lucuti semua yang kuasa, karena kaulah penguasa. Lagi, bangunkan lagi egomu yang tidur abadi. Lagi, biarkan dirimu menyeringai sekali lagi.

Reblogged from earth-song

earth-song:

Husband records in photos, the battle of his wife during the 5 years of the fight against cancer [see all beautiful photos here]

Being the second most common type in the world, breast cancer is the most common among women. Despite medical advances in treating this dreadful and merciless disease, today’s story unfortunately does not have a happy end as promised in the beautiful love stories. But this is nonetheless a beautiful love story. Jennifer and Angelo could have been another couple of million, the love of the two could have been just one more. With five months of marriage, Jennifer was diagnosed with breast cancer. At that moment began the great battle of his life. Face alone? No. Just as promised, in joy or in sorrow, in health or in sickness, Angelo said “We are together, it’ll be fine.”

Together they faced the disease. And more than love, affection and support, Angelo resolve to do more for his wife and all women in the world diagnosed with cancer. With a camera recorded every step sore treatment. During the first months Jennifer has received the full support of the people, but as people often tire easily, are not interested in hearing more about the pain and reality of a person with cancer. So Angelo has created a website where posted all of the five years in which Jennifer fought valiantly to beat the disease.

The goal of the website “My wife’s fight with breast cancer” is to expose the cruel truth of cancer, make people know and understand everything a person during the period prescribed for that fight to win, to live.

Jennifer and Angelo did not have to say a word, his story silent black and white is enough to understand how fragile life is, how small we are.

“Love every morsel of the people in your life.” - Jennifer Merendino

See all photos here

Hanya Untuk Kali Ini

Kali ini
kita sama-sama sendiri
meludahi sungai yang kemarau
kau harus biasa kala ku tak ada” katamu

kali ini
kita sama-sama merintih
menahan batu yang diretak lumut
aku harus biasa kala kau tak ada” katamu

malam ini
hutan telah sunyi sekali lagi
hujan tak lagi malu-malu
dan kau semakin terisak

kumohon, bangkitlah dan berdiri
lupakan ragu
kumohon, beranilah
lupakan pilu


Look deep into nature, and then you will understand everything better. 
Albert Einstein 

Reblogged from earth-song

Look deep into nature, and then you will understand everything better. 


Albert Einstein 

Reblogged from fuck-the-world-i-am-a-pandaa

epiic:

The Scientist by Epiic
Original: De Glazen Mensch -1935

Reblogged from epiic

epiic:

The Scientist by Epiic

Original: De Glazen Mensch -1935

earth-song:

Merry x-mas…

Reblogged from earth-song

earth-song:

Merry x-mas…